Ikhlas semata – semata karena Allah terlihat sangat mudah dilakukan dan setiap orang akan mampu melakukannya. Namun sesungguhnya berlakuk ikhlas secara benar dalam kehidupan sehari-hari itu berat apabila kita tidak melatihnya dengan rutin dan bersungguh-sungguh. Misalnya seseorang datang kepada kita, lalu karena ia anak pejabat maka kita dengan segera membantu kesulitannya. Tindakan atau amalan semacam ini bukan ikhlas semata-mata karena Allah, namun karena dia pejabat itu.
Akan tetapi jika kita menginginkan hidayah dari Allah, maka segala amalan yang kita lakukan sehari-hari itu kita anggap semata-mata suatu ibadah dan semata-mata ikhlas karena Allah. Demikian juga saat ulama’ menyampaikan kebenaran dan nasehat dalam dakwah hendaknya selalu disertai niat suci tanpa adanya niat karena ingin dihargai atau karena materi ( harta benda ). Semua dakwahnya hanya ditujukan karena Allah semata dan dilakukan secara ikhlas.
Tapi sayang, banyak diantara kita yang masih belum mampu melepaskan kehendak nafsu. Contoh dari nafsu ini misalnya memiliki keinginan untuk dikenal dan di segani, dianggap sebagai Kyai atau Ulama’ hebat. Apabila nafsu itu sudah menyelimuti jiwa seorang Kyai atau Ulama’ maka mereka tidak segan-segan mengharapkan amplop ( imbalan ) dari orang yang mendatangkan mereka untuk melakukan ceramah. Atau mereka ingin memiliki keinginan agar dihormati oleh seluruh umatnya.
Rasulullah Saw, sebagai seorang pemimpin dan Ulama’ besar tidak pernah berbuat atau mengharapkan hal yang demikian. Beliau melakukan dakwah menyampaikan kebenaran bukan semata-mata karena ingin dipuji dan dihormati. Beliau juga tidak ingin dirinya terkenal dan tidak ingin menumpuk harta kekayaan. Semua dilakukan dengan ikhlas semata-mata karena Allah.
Syarat untuk mencapai hidayah Allah adalah kita harus ikhlas dalam melakukan kebaikan. Ikhlas dalam melakukan kebaikan itu tidak terbatas pada dakwah atau menyampaikan ajaran kebenaran saja, tetapi juga dalam mencapai segala segi kehidupan duniawi. Urusan berdagang misalnya, kita tanamkan rasa ikhlas semata-mata karena Allah. Apabila bertugas menjadi pegawai, ditanamkan rasa ikhlas kepada Allah dalam melakukan tugas dan kewajibannya. Juga dalam menjalin hubungan rumah tangga pun harus disertai niat ibadah serta ikhlas semata-mata karena Allah. Pada intinya segala segi kehidupan kita harus bertumpu pada keikhlasan hati semata. ( Admin )
Dikutip dari : Buku meraih hidayah Allah
Mukhlisin adalah orang yg ikhlas dan berusaha ridha dengan berbagai ketentuan-Nya. Sementara Mukhlasin adalah orang yg telah belajar ikhlas lalu dibuat Allah menjadi ikhlas dengan takdir-Nya. Kapan, di mana dan dalam situasi apapun.... yg sangat terasa karena sifat adi luhur ini adalah dia tidak akan pernah perduli lagi dengan apapun yg menimpanya ... Tidak "geer" karena pujian dan tidak minder karena celaan ... Allahu Ghaayatuna, Allah adalah tujuan dan arah hidupnya
BalasHapus" Iblis menjawab : Demi kekuatan Engkau, aku akan menyesatkan mereka semua kecuali hamba-hamba-Mu yang Ikhlas " (QS. Shaad: 83)
Betul tuh..semoga kita menjadi orang2 yang ikhlas ya
BalasHapus