Oleh : Muchsin Nasution
Rasulullah Saw, pernah bercerita bahwa pada zaman umat terdahulu, dikalangan Bani Israil, terdapat seorang laki - laki yang sangat kejam dan sadis. Lelaki ini telah melakukan pembunuhan terhadap sembilan puluh sembilan jiwa manusia. Ia tidak lagi berpikir panjang jika mempunyai masalah. Ia akan langsung membunuh orang yang bermasalah dengannya.
Lama kelamaan ia berpikir bahwa apa yang dilakukannya itu merupakan sebuah dosa yang sangat besar. Ia ingin bertaubat. Ia ingin menghentikan perbuatan itu dan kemudian memohon ampun kepada Allah atas dosa - dosanya. Ia juga ingin memperbanyak ibadah kepada Allah agar dosa - dosanya itu diampuni Allah.
Namun ia bingung. Ia tidak tahu bagaimana cara bertaubat agar diterima Allah. Dia juga tidak tahu bagaimana cara beribadah kepada Allah. Karena itu, ia berpikir untuk mencari seorang yang ahli ibadah agar dapat mengajarinya bertaubat dan beribadah kepada Allah.
Ia pun kemudian bertanya kepada orang - orang, siapakah orang yang ahli ibadah dan dimanakah ia berada?. Ada yang memberitahukan kepadanya tentang seorang yang sangat kuat ibadahnya. Ia adalah seorang ulama.
Maka laki - laki tersebut segera mencari orang ahli ibadah itu. Setelah sekian lama dalam perjalanan, ia menemukan ahli ibadah itu.
Laki - laki itu bertanya," Bagaimana pendapatmu jika ada seorang pembunuh sembilan pulu sembilan nyawa manusia. Apakah jika ia betaubat, taubatnya itu akan diterima Allah?"
Ahli ibadah itu berpikir, terlalu besarnya dosa itu. Karena itu ahli ibadah itu menjawab," Tdak."
Sang laki - laki pembunuh itu marah mendengar jawban sang ahli ibadah. Bangkitlah nafsu membunuhnya. Ia merasa dihina oleh sang ahli ibadah itu. Ia tidak dapat lagi menahan hawa nafsu jahatnya itu. Maka tanpa berpikir panjang lagi, ia pun langsung membunuh ahli ibadah itu. Maka genapalah, ia telah membunuh seratus nyawa manusia.
Setelah sadara bahwa ia telah melakukan dosa besar lagi dan ia ingat akan keinginannya untuk bertaubat, maka ia pun kembali bertanya kepada orang - orang yang ditemuinya. Diantara orang - orang itu itu ada yang memberitahukan tentang seorang alim, orang yang berilmu. Sang alim ini memiliki pengetahuan yang sangat luas. Selain berilmu luas, ia tentu juga seorang yang kuat ibadahnya. Ia bisa memutuskan perkara dengan sangat adil dan bijak.
Setelah bertemu, laki - laki pembunuh itu pun bertanya," Bagaimana pendapatmu terdapat seseorang yang telah membunuh seratus nyawa manusia. Masihkanh taubatnya diterima Allah?"
Sang alim itu menjawab," Tentu masih ada kesempatan bagi dia untuk bertaubat.
Memang siapa yang akan menghalangi antara dia dan Allah? Pergilah ke Neger ini dan itu. Disana engkau akan menemukan orang - orang yang menyembah lagi pulang ke negerimu sendiri karena negerimu itu adalah negeri jelek.
Orang itu sungguh bahagia mendengar jawaban dari sang alim tersebut. Ia berpikir dapat memperbaiki hidupnya denagn bertaubat dan beribadah kepada Allah bersama para ahli ibadah dinegeri yang ditunjukkan oleh sang alim tadi.
Maka berangkatlah dia menuju negeri para ahli ibadah itu. Ia pun mengadakan perjalanan yang sangat jauh. Ketika baru mencapai separuh perjalanan tiba - tiba, entah dengan sebab apa, laki - laki yang akan bertaubat itu meninggal dunia.
Menurut cerita Rasulullah, pada waktu itu malaikat Rahmat, yaitu malaikat yang memberikan kenikmatan setelah mati, dan malaikat Azab, yaitu malaikat yang bertugas memberikan siksa setelah mati, berdebat tentang status laki - laki yang mati itu.
Malaikat Rahmat berkata," Dia datang dalam keadaan bertaubat, menghadap sepenuh hatinya kepada Allah."
Namun mlaikat Azab tidak menerima pendapat, malaikat Rahmat itu. Ia berkata," Sesungguhnya dia tidak pernah melakukan kebajikan sama sekali."
Ditengah perdebatan mereka itu, datanglah satu Malaikat lagi yang menyerupakan dirinya seperti manusia. Kedua malaikat yang berdebat itu sepakat untuk menjadikan Malaikat yang satu itu sebagai hakim yang akan memberikan keputusan tentang status laki - laki yang mati itu.
Malaikat itu berkata," Ukur saja jarak antara dua negeri ini. Ke mana tempat meninggalnya itu lebih dekat.
Maka kedua malaikat yang berdebat itu mengukur jarak antara daerah asal dan daerah tujuan. Lebih dekat daerah tujuan ataukah daerah asal ia melakukan perjalanan bertaubat itu.
Ternyata mereka menemukan bahwa laki - laki itu meninggalnya lebih dekat dengan negeri yang ditujunya. Maka Malaikat Rahmatlah yang menanganinya. Dengan demikian, walaupu laki - laki itu belum sempat melakukan ibadah kepada Allah dia tetap mendapat rahmat Allah, disebabkan niatnya yangs angat kuat dan ikhlas untuk bertaubat dan beribadah.
Hadist ini memberikan pelajaran kepada kita agar memperdalam ilmu pengetahuan. Sebab ibadah kepada Allah tanpa disertai dengan ilmu adalah suatu kebodohan dan tidak sempurna. Selain itu, kita dianjurkan untuk menghidari pergaulan dengan orang - orang yang berprilaku jahat dan buruk, agar kita tidak turut bersifat seperti mereka.
Dikutip dari : Buku hikmah di balik Kisah ( Spiritual Stories )
Tidak ada komentar:
Posting Komentar